Blog Kedaung Hijau

Januari 2, 2008

KOTA KEMBANG, KAMI DATANG

Filed under: Berita Warga — kedaunghijau @ 2:29 am

Mejeng usai isi bensinInsya Allah, jadi Om. Besok kumpul jam 06.00. Om jadi ikut kan? Itu SMS dari Adi Wicaksono AKA Adi Kecil jam 15.04 WIB, Jumat 28 Desember. Ini soal rencana Touring ke Bandung. Ya, hingga H-1 saya masih buta soal rencana hajatan touring ke-4 di Kedaung Hijau itu. Saya hanya tahu ke mana tujuan dan kapan berangkat itu saja. Bahkan pulangnya kapan, saya belum dapat informasi. Tapi sejak awal, saya pengen ikut acara ini. Maklum dari tiga kali GREEN, komunitas pengendara motor di Kedaung Hijau mengadakan touring, baru sekali ikutan. Masak jaket seragam belum pernah dipakai.
Jam 06.00? Hmm…saya membatin. Pengalaman-pengalaman sebelumnya, pasti ngaret. Makanya saya sengaja ngumpul terlambat 30 menit. Apalagi malam Jumat saya masih harus begadang, menyelesaikan “tugas akhir” yang baru kelar pukul 02.00 dini hari dan sampai rumah baru jam 03.00. Sembari pulang kerja sempat ngisi bensin full tank dan periksa tekanan ban motor.
Benar, sampai di Rumah Pak Sayogio, peserta belum semua ngumpul. Hendra dengan Vega-nya masih ngider kelililing kompleks, nyamperin peserta yang belum kelihatan batang hidungnya. Sementara saya masih mengingat-ingat perlengkapan apa yang masih harus saya bawa. Ah…rasanya sudah lengkap.
Baru pukul 08.30 bendera start dikibarkan setelah sebelumnya diadakan doa bersama yang dipimpin oleh Ki Ontong. Ada 15 peserta dengan 13 motor. Etape pertama adalah Pom Bensin Cimanggis. Beberapa peserta ngisi bensin. Setelah akan berangkat baru ketahuan, light stick (istilahnya apa ya?) ketinggalan. Terpaksa Adi menelepon Ndan, untuk mengantarkan. Saat itu juga Dhika, yang menyebut dirinya si pria rasa jeruk memberi kabar minta ditunggu. Baru pukul 09.00, rombongan ini melaju.
Di persinggahan pertama itu pula, pilihan jalur Jakarta Bandung ditentukan. Setelah mempertimbangkan jalur Puncak yang diperkirakan macet, akhirnya rombongan memilih lewat Sukabumi. Dan asyiknya, rombongan ini melewati dari Kampus Dermaga lalu ke Cijeruk dan keluar di Lido. Wah, saya jadi menduga-duga, jangan-jangan jalur ini yang sering disebut-sebut sebagai kawah Candradimuka para penggowes IPDN, komunitas penggowes yang suka tanjakan. Maklum dari kampus Dermaga, jalan menanjak tiada henti-hentinya. Saya membayangkan bagaimana tersiksanya para “praja” IPDN itu melewati tanjakan yang tiada habis-habisnya itu. Ah..kok jadi ngomongin sepeda. Ini komunitas motor, Bro!
Oke..kembali ke motor. menjelang masuk Cijeruk, hujan mulai turun. Peserta pun mulai mengenakan jas hujannya. Tapi menjelang masuk Lido, hujan mulai reda. Beberapa peserta yang kegerahan, memilih melepas jas hujannya. Tapi ada juga yang ogah melepasnya. Saya masuk diantara keduanya, hanya melepas bajusanya saja. Pertimbangan, jalan masih basah, celana pastik ini bisa melindungi celana jeans saya. Mendadak sebelum masuk Cisaat, Sukabumi, hujan kembali turun. Kali ini lebih lebat. Jarak pandang pun terbatas, tetapi peserta tetap melibas.
Makan di Warung Padang Lepas Cisaat, peserta kembali turun minum di Pom Bensin. Bukan untuk mengisi bahan bakar, tetapi mengeluarkan cairan (maksudnya kencing). Perut saya mulai melilit. Maklum dari pagi belum terisi. Untung di seberang jalan ada mini market. Sepotong roti isi stoberi masuk tanpa basa-basi.
Menjelang Cianjur, tepatnya sebelum perbatasan Sukabumi-Cianjur (Sebelum masuk jalan menuju rumah Pak Ustad Nur Hasan) kami mengisi perut setelah Dewi, satu-satunya peserta prempi teriak-teriak kelaparan dari jok bocengannya. Peserta pun melahap hidangan padang tanpa sisa. Bahkan ada dua “oknum”, salah satunya yang dipanggil Om di atas tadi, nambah segala. Mentang-mentang gratis. Huhh…
***

Etape selanjutnya, Sukabumi – Bandung dilibas tanpa basa-basi. Maklum, perut dan tangki motor telah terisi penuh. Jalur Cianjur – Padalarang memang sangat menyenangkan. Lalu lintas tak terlalu padat dan aspal pun tergolong muluzzz. Bahkan beberapa kali rombongan ini melewati trek lurus yang menggoda untuk terus memelintir gas. Ya, mungkin di jalur ini, top speed tercipta, 110 km/jam.
Selanjutnya peserta tertantang di jalur Padalarang yang penuh tikungan. Andrenalin pun meluap-luap saat melewati jalur ini. Beberapa  peserta pun tak sabar ingin menaklukkan beberapa tikungan tanpa lepas gas. Bahaya? tentu… Apalagi banyak musuh truk-truk besar pengangkut batu (gamping) yang memang menjadi pelintas rutin jalan ini. Tapi siapa yang bisa melarang. Jiwa muda memang penuh gejolak. Sebatas ada perhitungan masih bisa dimaklumi.
Usai menaklukkan tanjakan dan puluhan tikungan tajam, peserta disuguhi turunan dan tikungan. Aura, Bandung pun mulai tercium. Jadi, meski badan mulai capek, tapi ada suntikan semangat yang meluap-luap tak kala rombongan ini mulai menjejakkan roda motornya di Paris Van Java. Meski, rombongan sempat terpecah-pecah di Jalan Soekarno Hatta yang lampu lalu-lintasnya nyebelin, akhirnya rombongan tetap bisa bersatu di Margahayu. Tempat rombongan ini menginap di rumah Kel Bapak/Ibu Sayogyo.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: