Blog Kedaung Hijau

Februari 15, 2008

Sebuah Renungan untuk Orang Tua

Filed under: OPINI — kedaunghijau @ 11:24 pm

Catatan: Saya dapat postingan yang menarik. Entah siapa yang membuat. Khusus untuk orangtua. Tulisan lumayan panjang. Tapi menurut saya sangat berguna.

Inilah ceritanya:

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat
saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: “Apa yang kamu
inginkan ?” Dika hanya menggeleng. “Kamu ingin ibu bersikap seperti
apa ?” tanya saya. “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan
soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog
yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan
hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi,
bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada
angka 140 – 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk
kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis
yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah
yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat
kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati
kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu
membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh
dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”
Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja” Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama
ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.

Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya
menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain
basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game
di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi
kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang
memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk
sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu
pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi
ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain
sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

KetikaPsikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku ….”
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku
melakukan sesuatu”.

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak
mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan
itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari,
seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun
pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan
minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya,
merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan
oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”
Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” Dalam banyak hal
saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,
disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya
ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang
tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri
kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam
bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”
Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat
kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa
setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka
anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan
yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena
orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga
tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari
kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah
adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu
mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang
…..” Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting
saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan
kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk
membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan
pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang
menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.
Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan
Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”, Dika pun
menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan
nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan
tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya
dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari
…..” Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan
lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia
mencium dan memeluk adikku”. Memang adakalanya saya berpikir bahwa
Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk,
apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman
sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih
indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari
….” Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan
satu kata “tersenyum”.

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan
wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi
anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari
ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin
ibuku memanggilku. …” Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku
dengan nama yang bagus” Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia
lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu
Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu
memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari
kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku
memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama
Asli”.

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo”
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur
keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak
Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan
“To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah
seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah
Kewajiban, bukan Pilihan”.

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.
Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah
polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga
kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua
tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para
orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang
baik.

1 Komentar »

  1. duh, masukan yang berarti sekali nih. Perlu diperhatikan oleh kita semua. thanks ya mbak, berguna banget buat orangtua baru seperti saya

    Komentar oleh andrias ekoyuono — Februari 19, 2008 @ 6:33 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: